Bahagianya Bisa Berbagi dengan Orang Lain

Bahagianya Bisa Berbagi dengan Orang Lain

Jun 19, 2012

Sepeninggal almarhum suaminya, Endang Rachminingsih menyibukkan diri dengan produksi sulamannya. Merasa sudah mencapai apa yang diinginkannya, kini dia lebih banyak mengajar keterampilan sulam ke orang lain.

 

Di atas sebuah meja besar yang terletak di teras samping rumah nampak tergeletak beberapa kain sulam setengah jadi. Di sekeliling meja, tiga perempuan muda asyik mengerjakan sulaman di selembar kain. Seorang lagi terlihat sedang menjiplak pola gambar bermotif ke atas kain. Tak kalah sibuknya, si empunya rumah juga menyiapkan beberapa kain berukuran 50 x 50 cm yang sudah disulam setengah jadi.

“Ini untuk persiapan pameran Gebyar Adikarya Sulam Indonesia di Museum Nasional 24-28 April 2009. Di acara tersebut, kami yang tergabung dalam Yayasan Sulam Indonesia akan menyulam serentak supaya bisa didaftarkan di Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk penyulam terbanyak dalam satu kesempatan. Dari sekitar 200-an penyulam, ada satu murid sulam saya yang bersekolah di SLB Tunagrahita dan beberapa ibu-ibu yang pernah belajar di sini ikut di acara pemecahan rekor tersebut,” papar si pemilik rumah, Endang Rachminingsih kepada DUIT!ketika itu.

Rona kebahagiaan nampak di wajah perempuan paro baya yang akrab disapa Mimin Amir ini. Betapa tidak, setelah bertahun-tahun berkecimpung di bisnis sulam, Mimin mengaku sekarang saatnya lebih banyak berbagi ilmu dengan orang lain lewat keterampilan tangan ini. Meskipun tugas yang satu ini juga sudah dia lakukan ketika pertama kali berkecimpung di pekerjaan sulam- menyulam.

“Bagi saya yang penting bisa mengeluarkan kreasi-kreasi produk, mengajarkan ilmu kepada orang lain. Saya sudah mendapat apa yang saya inginkan. Saya pun tidak menyangka bisa berkecimpung di sulaman ini. Semuanya berjalan begitu saja,” tambah pemilik usaha Rumah Sulam Rachmy ini.

Perempuan kelahiran Bogor, 1951 ini pun bercerita tentang keterlibatannya di usaha sulam sejak awal. Bermula ketika dirinya ikut sang suami, Amir Syarifudin yang bertugas sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia di Singapura tahun 2000 silam. Jenuh karena hanya menerima dan mengantar tamu BI yang bertandang ke sana, Mimin menerima ajakan istri Dubes RI untuk Singapura menjadi pengajar sukarela di Masjid Sultan Singapura. Bahkan sempat mendapatkan penghargaan “Jasa Bhakti” dari pemerintah setempat. Di sana, ibu empat anak ini mengajar keterampilan bagi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negeri singa tersebut. Mimin juga kerap mengajar keterampilan buat ibu-ibu Dharma Wanita KBRI di sana.

Kebetulan, dirinya cukup terampil membuat aneka keterampilan seperti merangkai bunga, merangkai buah, membuat aksesoris dan sulaman. Semuanya dia dapatkan dari usaha belajar sendiri lewat buku-buku yang sudah lama dibelinya.

Sekembalinya ke Indonesia (2002) dan suaminya masuk masa persiapan pensiun, Mimin harus menghadapi kenyataan sang suami terkena kanker otak. Dia harus selalu mendampingi suaminya dan tak bisa meneruskan hobinya di bidang keterampilan.

Dua tahun berselang, sang suami dipanggil Tuhan. Peristiwa ini membuat dirinya sadar bahwa tak ada harta yang bisa dibawa mati kecuali amal ibadahnya ketika di dunia. “Saya berfikir, harus membuat sesuatu yang bermanfaat buat diri saya, keluarga dan yang penting berguna bagi orang banyak,” cerita nenek 5 cucu ini.

Singkat cerita, Mimin menjadi sukarelawan lagi mengajar keterampilan tangan ke kaum Dhuafa di Sekolah Luar Bisa (SLB) Tunarungu dan Tunagrahita tak jauh dari tempat tinggalnya. Disinilah titik balik bisnis sulamnya dimulai.

 


“Ketika itu, para murid saya di SLB sering datang ke rumah. Mereka bilang, sulaman yang mereka buat ternyata laku dijual. Hal itu membuat saya berfikir, mengapa saya tidak bisa melakukan hal serupa?” kenang alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini.

Awalnya Mimin memproduksi segala macam kebutuhan fashion perempuan dengan pola sulam pita, seperti mukena, tas, selendang dan sebagainya. Bukan hal yang sulit bagi pengajar sulam ini memasarkan produk-produknya karena dari beberapa kerabat, kenalan dan orang-orang yang pernah belajar dengannya menjadi konsumen sekaligus media promosi yang ampuh.

Pelanggannya juga merambah toko fashion (butik) seperti Danarhadi dan Chickmart. Produsen produk kecantikan Martha Tilaar pun sempat menjadi pelanggan tetapnya. Dengan 6 karyawan tetapnya, Rumah Sulam Rachmy juga menjadi pengisi tetap toko souvenir bagi tamu dan pengunjung di Istana Presiden RI, yang dalam sebulan bisa memasarkan 60-100 item produk mulai dari
sarung bantal, tempat HP, tempat tissue dan lain-lain. Di luar itu, Mimin masih menerima pesanan perorangan, dari orang kebanyakan sampai keluarga pejabat, termasuk membuat souvenir pernikahan. Pameran? “Kalau ada pameran yang cocok dengan produk saya dan bisa saya ikuti, biasanya saya juga ikut,” jawab Mimin.

Stop Produksi ke Butik

Aneka produk sudah dibuat Mimin lewat Rumah Sulam Rachmy-nya. Namun, belakangan Mimin lebih banyak memproduksi aneka tas (pola sulam, bordir, lukis dan kombinasi ketiganya). Penulis buku “Sulaman Bunga pada Tas Cantik” terbitan Gramedia dan sudah cetak ulang ini membanderol harga tas mulai dari Rp175 ribu sampai Rp1,5 juta.

Seiring waktu dan usianya, Mimin mengaku dirinya sudah mulai menyetop memasarkan produknya ke butik-butik. “Setelah mendapat apa yang diinginkan, sekarang saatnya saya harus lebih banyak waktu untuk keluarga, cucu-cucu. Tapi saya juga ingin berbagi dengan orang lain,” cetus perempuan yang menyisihkan sebagian keuntungan usahanya untuk kaum dhuafa ini.

Berbagi dengan orang lain diwujudkan lewat kiprahnya sebagai tenaga pengajar keterampilan di beberapa tempat dan organisasi, seperti Dekranas Pusat, Dekranasda Bali, para guru SMK se DKI, para kader PKK di Jakarta dan Banjarmasin, Dharma Wanita  KBRI di Singapura dan sebagainya.

“Saya ingin perempuan-perempuan Indonesia bisa memanfaatkan waktunya menjadi kegiatan produktif dan ekonomis untuk bisa  menopang kebutuhan rumah tangga mereka. Buat para perajinnya, saya ingin perajin sulam Indonesia tak kalah dengan Thailand, Vietnam  atau India yang produknya bisa go international,” harap Mimin yang pernah mengajar perajin busana Bali bersama desainer Samuel  Wattimena ini.

Tak heran kalau perempuan berdarah Jawa Timur-Sunda ini menolak beberapa tawaran kerjasama para desainer ternama. “Bukannya menolak rezeki, tapi saya tidak mau terikat. Saya ingin bisa lebih kreatif tanpa dibatasi oleh ini itu,” ujarnya beralasan.

Kini, di rumahnya yang asri sekaligus sebagai tempat workshop dan ruang pamer, peraih penghargaan UKM berprestasi provinsi DKI Jakarta, Juara I lomba Produk Unggulan Kodya Jakarta Barat, Produk Unggulan tingkat provinsi DKI Jakarta, Best Professional Moslem of The Year 2006 by Indonesia Moslem Association (semuanya di tahun 2006) ini bisa mencurahkan waktunya membuat produk sulam kreatif, sambil sesekali menemani cucu-cucunya bermain.(Agustaman, Majalah DUIT No. 05/IV/Mei 2009)

 

Bebek Metro, Gerai Bebek Para Urban

 

 

Jualan produk-produk makanan tradisional perlu juga sentuhan modern. Di tengah kebiasaan yang mewabah, sentuhan modern menjadi ujung tombak deferensiasi yang unik, mudah terlihat, dan menggoda. Jangan khawatir tak akan nyambung. Karena, jika pintar meramu, malah bisa jadi sesuatu yang mengundang orang untung mencoba. Sebuah perpaduan yang tak kehilangan ketradisionalannya namun punya gengsi.

Salah satu yang menarik dicermati adalah Bebek Metro. Berlokasi di Condet, Jakarta Timur, gerai makanan dengan menu utama bebek ini cukup menarik. Selain namanya yang terasa “menggigit” dan provokatif pengelola Bebek Metro juga memasarkannya lewat jejaring sosial seperti Facebook dan profilnya bisa ditemukan di blognya. Ini memudahkan sosialisasinya. Kini Bebek Metro malah sudah menawarkan kemitraannya dengan modal Rp 20-an juta, pertanda dapat sambutan baik di pasar.

Nama-nama gerai yang unik dari makanan sejenis sebelumnya yang terbukti populer adalah Bebek Tempur dan gerai pecel lele Lele Lela. Dengan menggunakan nama gerai yang gaul, menggoda, dan pengelolaan yang modern makanan tradisional pun bisa lebih  menjual. (Den Setiawan, den.setiawan@yahoo.co.id)

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

e&S[sƵbNE6>DKH:x8X$$,Qt-6S?pYlidD;{>Ǟ={wKn|t}?D ;u$uYs?@Y)v6,֨uYy[@Bö͢,Z-(;WE{RRmU~ c^#w\$6FH>qp61lqm)޷`["v*mYb6W Hgj&JmkAFuBI$ٞfԧh3Gd S44F6÷.]YL/FiI!-g5)!ZvIhH905FT t#Zm'̦ͥ"xU6fT\#.Qc)YiP ؉v*L [u[ľʕ& Gc4<pt[/j6UgB%2U׌=`VdPYE,}wA3u"| 2bY>njs (dwN3jH u?~K⪎mS҅PX o˓_RT} XVp[S:89aS[dqiVZ cEpd]A< |n #̂s,o[}p%Aa4~齍{ܞ<ٳ>Vq'-&x?Q9Sh_[ǃŽWYE-t"e`i?qD(aȠ *{,$|2X٫3j9LOG k>`hKk*Hell&C5a)C32YeeO?͗gKykm&D7G7|vR :rفO{:I?"?gG/{}W4Io45.GrtPu{'GQo43 5FbZŖxDfD?zB(9uȍJt yIF ġݤuWskT#b2H!TOO2%kmfo6PQ5 lţC0Ll fK7?C?116p֨pMG6v]aˎѷ ;'6W߼b.!H'[pQil=-?oA WvoVigpy7i3AtΖ0,U(B2J%-~91A3,^' laM*!5[|LT9}g=2W[ y:f+y6['5iqm"jMܦB2DXwKn(ZJp7jø3ڕ)M«*Q-aiFU N{9#ywgN͙;KK_qmW@bK^iE3J}P3_qPz&/nH +iK(r ]rgNPzfiB.V\!]2="PߏK s$ O7Hj5W]݉K&I{E 8͌.t3¦%,%&vQ,ZB1Ddbe-xl"@-, U?%\OZlVj4hޓěJ_pv,?xa {`nNDN3SƱ:l`A@j<[xZȵ[g4˻ V [HqW6u\]